Minggu, 04 Januari 2015

Suami Pelit

Soal suami pelit, itu biasa. Istri boros menggunakan uang suami? Juga umum terjadi. Tapi kalau suami dengan istri saling melempar tuduhan bahwa pasangannya yang pelit atau pasangannya yang justru pemboros, siapa yang benar? Untuk mengetahui itu, harus ada ‘standarisasi’ sikap pelit dan pemborosan. Bila sulit dibuktikan, harus ada solusi lain yang segera diambil untuk menyelesaikan persoalan. Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan dalam hal itu:

Suami Pelit?

Diantara hak-hak istri yang paling utama adalah memberikannya nafkah. Menafkahi istri adalah bentuk ibadah dan taqarrub yang paling besar yang dapat dilakukan seorang hamba. Nafkah itu sendiri mencakup makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan segala yang dibutuhkan oleh seorang istri jasmani maupun rohani. Sehubungan dengan istri yang mengeluh karena suami dianggap kurang dalam menafkahinya. Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa kaum lelaki-lah yang berkewajiban memenuhi kebutuhan wanita. Itu catatan pertama. Oleh sebab itu, kaum lelaki juga memiliki hak kepemimpinan dan keutamaan dibandingkan kaum wanita, karena kaum lelaki jualah yang memberi nafkah kepada mereka, dalam bentuk mahar atau uang belanja. Allah berfirman:

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan      karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”

Wajibnya bentuk pemberian nafkah semacam itu telah disebutkan dalam Kitabullah, Sunnah yang shahih dan ijma’ para ulama. Adapun dalil-dalil dari Kitabullah di antaranya firman Allah:

“…Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya….”(Al-Baqarah : 233)

Demikian juga firman-Nya:

“….dan apabila mereka (istri-istri yang ditalak) dalam keadaan hamil, berikanlah kepada mereka nafkah sehingga mereka bersalin…”(Ath-Thalaq : 6)

Adapun dalil-dalilnya dari ajaran As-Sunnah, banyak diriwayatkan dari hadist-hadist yang menegaskan wajibnya seorang suami memberikan nafkah kepada istri dan keluarganya serta semua yang berada dalam asuhannya, sebagaimana ditegaskan dalam hadist Jabir bin Abdullah -Radhiallahu’anhu- bahwa Nabi menyatakan dalam Hajjatul Wadaa’ : “Bertaqwalah kepada Allah dalam memelihara wanita, sesungguhnya mereka itu adalah tawanan bagi dirimu; kamu memiliki mereka dengan amanah kepada Allah dan kamu halalkan kemaluan mereka dengan kalimatullah, maka hak mereka atas dirimu adalah hendaknya kamu memberi mereka nafkah dan pakaian dengan cara yang baik.” (HR. Muslim VII : 183)

Dari Ibnu Umar bin Ahwash -Radhiallahu’anhu- diriwayatkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda dalam Hajjatul Wada': “Ingatlah, aku wasiatkan agar kalian bersikap baik kepada kaum wanita; sesungguhnya kaum wanita adalah tawanan bagi dirimu, kamu tidak memiliki hak lebih dari itu, kecuali apabila mereka mereka melakukan perbuatan nista yang nyata; bila mereka melakukannya, pisahkan tempat tidur mereka dan pukullah dengan pukulan yang tidak membahayakan. Kalau mereka kembali taat, janganlah mencari-cari masalah lagi dengan mereka. Ingatlah, bahwa kalian memiliki kewajiban atas istri-istri kalian, sebagaimana mereka juga memiliki kewajiban atas kalian. Adapun hak kalian adalah agar tidak seorangpun yang boleh berbaring di atas tempat tidur kalian dari kalangan yang tidak kalian sukai, dan tidak boleh istri-istri kalian membiarkan masuk orang yang kalian tidak sukai. Dan ingatlah, bahwa hak mereka atas diri kalian adalah agar kalian berbuat baik kepada mereka dalam soal makanan dan pakaian.”

Hadist tersebut diriwayatkan oleh At-Tirmidzi 1163 dan Ibnu Majah 1851. At-Tirmidzi berkomentar: “Hadist ini hasan shahih.”

Dalam hadist Muawiyyah in Hidah disebutkan bahwa ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah: “Apa hak seorang istri terhadap diri suaminya?” Beliau menjawab: “Hendaknya  kamu memberi makan sebagaimana kamu makan, dan memberi pakaian sebagaimana kamu berpakaian, janganlah kamu menjelek-jelekkan wajahnya dan jangan kamu memukulnya.” (HR. Abu Dawud II : 224 dan Ibnu Majah 1850 serta Ahmad IV : 446)

Al-Baghawi berkata: “Imam Al-Khattabi menyatakan, ‘Dalam hadist itu terdapat pernyataan bahwa memberi makan dan menyediakan pakaian adalah wajib. Dan kewajiban itu tentu tergantung kemampuan suami. Namun karena Nabi telah menjadikan itu sebagai hak istri terhadap suaminya, maka adalah wajib hukumnya, ada ataupun tidak. Artinya, bila si suami tidak ada pada saat tertentu, akan menjadi hutang yang harus ditunaikan pada waktu lainnya sebagaimana kewajiban-kewajiban lain. Baik hakim menetapkan itu sebagai kewajibannya ketika ia tidak ada ataupun tidak.

Dari Wahab diriwayatkan bahwa ia berkata bahwa bekas budak Abdullah bin amru pernah berkata kepada Ibnu Amru: “Pada bulan ini, aku ingin tinggal disini, “yakni di Baitul Maqdis, Ibnu Umar bertanya: “Apakah engkau meninggalkan bekal yang cukup untuk keluargamu?” Lelaki itu menjawab: “Tidak.” “Kalau begitu, pulanglah kamu dan persiapkan bekal yang cukup untuk keluargamu, karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Seseorang sudah cukup dianggap berdosa, ketika ia menyia-nyiakan orang yang wajib dia nafkahi.” (HR. Ahmad II : 160 dan abu8 DAwud 1692) Asal hadist  di atas dari Muslim 245, dengan lafazh : “Seseorang sudah cukup dianggap berdosa, ketika ia tidak memberikan nafkah kepada yang berhak menerima darinya.”

Dari Anas diriwayatkan, dari Nabi diriwayatkan bahwa beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban setiap pemimpin tentang bawahannya, apakah ia memeliharanya atau menyia-nyiakannya, sehingga seseorang pun ditanya tentang keluarganya.” (HR. Ibnu Hibban dan beliau hasankan dalam Shahihul Jamie’ no.1774).

Dalam hadist Abu Hurairah diriwayatkan bahwa ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Apabila seorang di antara kamu pergi dan mencari kayu baker, lalau menjualnya, untuk mencukupi kebutuhannya, kemudian ia sedekahkan, itu lebih baik daripada ia meminta kepada orang lain, diberi ataupun tidak. Karena tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang dibawah. Namun mulailah dari orang yang berhak engaku nafkahi’.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat Ahmad II : 524 disebutkan bahwa ada orang bertanya: “Siapakah yang berhak aku nafkahi, wahai Rasulullah. “Beliau menjawab: “Istrimu termasuk yang berhak engkau nafkahi.”

Adapun ijma’ para ulama, dinyatakan oleh Imam Ibnu Quddamah                         -Rahimahullah- dalam Al-Mughni VII : 564: “Para ulama telah bersepakat tentang wajibnya memberi nafkah kepada istri bagi seorang suami, kalau mereka mampu, kecualli bagi istri yang berbuat nista. Hal itu disebutkan oelh Ibnu Mundzir dan ulama lainnya. Nash-nash yang tersebut sebelum ini menunjukkan wajibnya seorang lelaki memberi nafkah kepada keluarganya, memperhatikan kemaslahatan mereka danmengurus mereka. Banyak hadist yang diriwayatkan dari Nabi, yang menunjukkan keutamaannya dan bahwa semua itu termasuk amal shalih di sisi Allah, sebagaimana tercantum dalam hadist Abu Mas’ud Al-Anshari bahwa Nabi pernah bersabda : “Apabila seorang muslim memberikan nafkah kepada kelaurganya, sementara ia menghisab diri, maka itu akan menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari I : 136)

Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- menyatakan dalam “Fathul Bari” IX : 298: “Menafkahi keluarga menurut ijma’ ulama adalah wajib. Islam menyebutnya sebagai sadaqah, karena dikhawatirkan orang-orang akan menyangka bahwa dengan melakukan yang wajib itu, mereka tidak memperoleh pahala. Padahal mereka telah mengetahui pahala dari amal sadaqah, agar mereka tidak mengalihkannya kepada orang lain, sebelum mereka mencukupi kebutuhan keluarga. Yakni untuk mendorong mereka agar mendahulukan sedekah yang wajib daripada sedekah sunnah.

Dalam hadist Saad bin Malik diceritakan bahwa Nabi bersabda : “Sesungguhnya, meskipun engkau memberikan nafkah kepada keluargamu sendiri, engkau tetap memperoleh pahala, sampai sekerat makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari III : 164 dan Muslim 1628. dari Abu Hurairah juga diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : “Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau keluarkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau berikan kepada fakir miskin, dan satu dinar yang engkau berikan sebagai nafkah keluargamu; yang terbaik diantaranya adalah yang engkau berikan sebagai nafkah istrimu.” (HR. Muslim II :692)

Dalam hadist Ka’ab bin Ajizzah juga diriwayatkan bahwa ada seseorang lelaki yang lewat di hadapan Nabi. Para sahabat melihat ada yang menakjubkan pada kulit dan semangatnya. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, bagus nian apabila keadaannya itu karena berjuang di jalan Allah?” Rasulullah menanggapi: “kalau ia keluar rumah demi menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, berarti ia di jalan Allah; kalau ia keluar rumah untuk menghidupi ayah ibunya yang sudah tua rebta, berarti ia di jalan Allah; dan apabila ia keluar rumah demi menghidupi dirinya sendiri agar terpelihara, maka ia juga di jalan Allah. Tetapi kalau ia keluar rumah karena rasa sombong dan membanggakan diri, maka ia berada di jalan setan.” (HR. Ath-Thabrani dalam “Shahihul Jamie'” II : 8)

Para ulama As-Salaf telah demikian memahami kewajiban ini dengan baik sekali. Itu Nampak dari ungkapan-ungkapan mereka. Alangkah apa yang dinyatakan oleh Imam Rabbani Abdullah bin Mubarak -rahimahullah- : “Kerja mencari nafkah tidak dapat dibandingkan dengan kerja apapun, termasuk jihad di jalan Allah.”

Jadi seorang suami sudah bisa dianggap ‘pelit’ bila ia melalaikan kewajibannya mencari nafkah, meskipun si istri tidak pernah menuntut atau tercukupi dengan hart yang dia miliki sendiri. Selama si suami mampu dan berkesempatan, ia wajib mencari nafkah demi anak dan istrinya. Bila tidak, ia sudah bisa disebut sebagai suami yang pelit. Apalagi bila suami tersebut sudah memiliki usaha yang mapan, penghasilan yang cukup, tetapi kurang memperhatikan kebutuhan istri dan anaknya. Di sisi lain, ia menghambur-hamburkan hartanya di luar rumah untuk kesenangan pribadi.

Lain halnya bila suami belum mampu mencukupi kebutuhan keluarganya, setelah ia berusaha mencari nafkah namun belum mendapatkan kesempatan memperoleh rezeki yang mencukupi. Atau ia membatasi pemberian kepada anak istrinya, karena untuk tujuan bersama yang lebih utama. Sperti menyimpan uang untuk membeli keperluan-keperluan mendadak, biaya pengobatan yang tiba-tiba, atau untuk membeli peralatan dan kebutuhan rumah tangga yang hanya bisa dibeli dengan cara menyisihkan sebagian penghasilan.

Istri Pemboros?

Namun disisi lain, seorang istri hendaknya juga mengerti bahwa nafkah yang diberikan suami kepadanya, hanya sebatas kemampuannya dan sesuai dengan kemampuan ekonominya, sebagaimana di firmankan oleh Allah: “Allah hanya membebani seseorang sebatas kemampuannya.” Sehingga ia tidak berhak dengan bersikap keras kepala di hadapan suami dengan banyak menuntut dan menyusahkan suami suami dalam memenuhi nafkahnya. Yang demikian itu adalah cara bergaul yang buruk dengan suami. Tetapi mungkin saja, apabila anda memenuhi tuntutannya yang wajar, sambil menginggatkan dirinya tanpa mencaci dan menyinggung perasaannya dengan cara yang dapat membatasi tuntutan-tuntuannya itu, anda akan dapat meredam sebagian sikapnya yang meledak-ledak serta membuatnya puas sehingga tidak menuntut lebih banyak. Demikian juga halnya dengan dialog dingin tanpa berbantah-bantahan dalam membahas kebutuhan-kebutuhan yang paling vital, seperti membayar uang kontrakan rumah dan sejenisnya. Seorang istri harus secara bijak mengatur keuangan yang terbatas, memilih-milih kebutuhan yang paling mendesak untuk didahulukan, dan sejenisnya. Yang demikian itu dapat membuatnya mengalah untuk tidak meneruskan tuntutannya.

Perlu diketahui, bahwa seringkali kekurangan materi itu dapat diganti dengan ucapan yang baik serta janji yang menyenangkan. Ketika dalam Al-Qur’an Allah menceritakan tentang kewajiban berbuat baik kepada kerabat dekat dan memperbaiki hubungan dengan bantuan materi. Allah juga menyebutkan  bagaimana seseorang bersikap ketika ia tidak memiliki harta untuk menjaga hubungan baik sesame saudara. Allah berfirman: “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Rabbmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.”

Ibnu Katsier -rahimahullah- menafsirkan ayat ini menyatakan: “Maksudnya, apabila sanak keluargamu memerintahkan kepadamu untuk memberikan sesuatu kepada mereka, sementara kamu tidak memiliki apa-apa, lalu kamu berpaling dari mereka karena tidak dapat memberi nafkah kepada mereka, “maka katakanlah ucapan yang pantas”. Artinya berikanlah kepada mereka janji yang baik dengan lembut dan ringan, yakni apabila Allah memberikan rezeki-Nya, kami akan memberi sesuatu itu kepada kalian, Insya Allah. Harus diketahui, bahwa ahlak yang baik akan dapat membuat orang lupa degan kesempitan ekonomi yang melilit dirimu. Untuk itu maka hendaknya kamu bersabar dan tetap bersikap dengan baik, dan terus memberi nasehat dan menebarkan dakwah. Kalau kondisi hidup semakin sulit dan kondisi perekonomian semakin juga buruk sehingga menemui jalan buntu, sementara segala upaya kamu untuk mengentaskan kondisi buruk itu gagal, sampai-sampai kehidupan tidak bisa dikendalikan lagi, pada saat itu Allah menetapkan adanya syariat thalaq. Terkadang yang demikian itu lebih baik bagi kedua belah pihak. Allah berfirman: “Dan apabila keduanya berpisah, Allah akan mencukupkan kebutuhan masing-masing. Dan Allah adalah Yang Maha Luas Lagi Maha Mengetahui.”

Artinya, harus ada keseimbangan antara ‘tuntutan istri’ dengan ‘kemampuan suami’. Bila secara akumulatif, karakter, sifat, kebiasaan dan latar belakang istri memang tidak bisa sejalan dengan kemampuan suami yang memang sudah mentok. Sementara penyelesaian masalah dengan menanamkan kesabaran juga menemuai jalan buntu. Pada saat itu, tak perlu lagi dicari biang keladinya. Suami yang pelit atau istri yang pemboros. Intinya, kedua belah pihak memang sulit untuk hidup bersama, perceraian (meski suatu yang harus dihindari sebisanya), bisa jadi merupakan alternative.

Sumber: Majalah Nikah Edisi 8/I/2002, hal. 36-39

Selasa, 09 Desember 2014

PERANG BANI NADHÎR


TAHUN TERJADINYA PEPERANGAN
Para Ulama ahli sirah berbeda pendapat tentang kapan perang Bani Nadhîr berkecamuk. Az-Zuhri rahimahullah [1] menganggap peperangan ini terjadi enam bulan pasca perang Badar Kubra. Ini berarti peperangan ini terjadi sebelum perang Uhud. Ulama' lain berpendapat bahwa peperangan ini terjadi setelah perang Uhud, tepatnya pada bulan Rabi'ul Awwal, tahun ke-4 hijrah.

SEBAB PEPERANGAN
Para ulama ahli sirah menyebutkan bahwa peperangan ini dipicu oleh tiga sebab :

Pertama, percobaan permbunuhan terhadap Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang di lakukan oleh Bani Nadhîr pasca perang Badar[2].

Kedua, rencana orang-orang Yahudi Bani Nadhîr untuk membunuh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Pembunuhan ini direncanakan oleh Bani Nadhîr ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta beberapa sahabat berangkat ke Bani Nadhîr untuk meminta mereka ikut menanggung diyat dua orang Bani Kilâb yang di bunuh oleh Amru bin Umayyah Radhiyallahu anhu [4] . Ketiba Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di daerah Bani Nadhîr, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutarakan tujuan kedatangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Namun orang-orang Yahudi Bani Nadhîr tidak memenuhi permintaan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bukan hanya sebatas menolak permintaan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahkan mereka berniat membunuh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Demi mengetahui rencana jahat mereka ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung pulang ke Madinah dan mempersiapkan pasukan[5].

Ketiga, perbuatan bani Nadhîr yang telah memprovokasi orang-orang kuffar Quraisy agar memerangi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam [6] .

PERCOBAAN PEMBUNUHAN TERHADAP RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM[7]
Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutarakan maksud kedatangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Bani Nadhîr , awalnya mereka menyanggupinya. Mereka mengatakan :

نَفْعَلُ يَا أَبَا القَاسِمِ , اجْلِسْ حَتَّى نَقْضِيَ حَاجَتَكَ

Wahai Abul Qâsim, kami akan memenuhinya. Silahkan duduk sampai kami bisa memenuhi kebutuhanmu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di dekat tembok rumah mereka bersama Abu Bakar Radhiyallahu anhu , Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu , Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu dan beberapa sahabat lainnya.

Sementara di tempat lain orang-orang Bani Nadhîr berkumpul dan berencana membunuh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka mengatakan, "Siapa diantara kalian yang mau menjatuhkan batu ini ke kepala Muhammad sampai pecah ?"

Salah satu dari mereka yang bernama Amru ibnu Jihasy mengatakan, ”Saya.”

Mendengar rencana ini, Salam ibnu Misykam berusaha mencegah mereka, ”Jangan kalian lakukan ! Demi Allâh, pasti Allâh akan memberitahukan rencana kalian ini kepadanya.” Peringatan Salam bin Misykan ini tidak diindahkan. Mereka tetap berencana meneruskan niat jahat mereka.

Dalam keadaan seperti ini, Allah Azza wa Jalla menurunkan wahyu kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Malaikat Jibril Alaihissallam memberitahukan prihal rencana tersebut. Setelah mendapat wahyu itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera bangkit tanpa mengucapkan sepatah katapun dan pulang ke Madinah begitu pula para sahabat. Mereka bertanya tentang apa yang menyebabkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba bangkit dari tempat beliau dan pulang. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan niat keji orang-orang yahudi yang hendak membunuhnya.

Tidak beberapa lama, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Muhammad bin Maslamah untuk menyampaikan keputusan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Bani Nadhîr agar mereka keluar dari Madinah dan tidak tinggal bersama Rasûlullâh di Madinah. Mereka diberi tenggang waktu sepuluh hari. Barangsiapa ketahuan masih tinggal di Madinah setelah habis tempo, maka ia akan diperangi. Lalu, mereka bersiap-siap meninggalkan Madinah.[8]

PERAN KAUM MUNAFIQ[9]
Kali ini, Abdullah bin Ubay kembali memperlihatkan perannya dalam mengadu kaum Muslimin dengan musuh-musuhnya sebagaimana kelakuannya pada peperangan-peperangan sebelumnya. Dia mengutus seseorang untuk memprovokasi Bani Nadhîr agar tidak keluar dan melawan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dia menjanjikan dua ribu personil untuk memperkuat mereka melawan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahkan dia menyatakan rela mati demi membela mereka. Dia juga menjanjikan bantuan dari Bani Quraizhah dan sekutunya Bani Ghathafân.

Janji Abdullah bin Ubay direspon oleh Hayyi bin Akhtab pemimpin bani Nadhir. Karena merasa mendapat pertolongan kaum munafiq, mereka memutuskan untuk tidak keluar meninggalkan Madinah. Mereka menyampaikan keputusan tersebut kepada Rasûlullâhn .

SITUASI YANG DI ALAMI KAUM MUSLIMIN SEBELUM PERANG INI
Para Ulama' ahli sirah menyebutkan, perang dengan Bani Nadhîr ini terjadi pasca musibah berat menimpa kaum Muslimin, yaitu gugurnya sebagian sahabat dalam perang Uhud, kemudian terbunuhnya para shahabat pilihan yang diutus Rasûlullâh dalam dua tragedi yang sangat berdekatan. Peristiwa Raji' dan peristiwa Bi'ru Ma'unah, dua peristiwa menyedihkan terjadi dalam satu bulan yaitu bulan Shafar tahun ke-4 hijrah.

Kejadian-kejadian ini menorehkan kesedihan mendalam pada diri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Sehingga berperang dalam situasi bathin seperti ini jelas kurang menguntungkan. Namun jawaban Hayyi bin Akhtab, pimpinan Bani Nadhir membuat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak punya pilihan lain kecuali memerangi Bani Nadhîr yang telah berkhianat dan melanggar perjanjian dan tidak mengindahkan perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

PENYERANGAN DIMULAI
Saat mendengar jawaban Hayyi bin Akhtab, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dan di ikuti oleh para sahabat. Penyerangan ke Bani Nadhîr akan dimulai. Panji peperangan kali ini dibawa oleh Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Ibnu Ummi Maktûm Radhiyallahu anhu tinggal di Madinah sebagai pengganti Rasûlullâh selama beliau di medan perang.

AKHIR DARI KISAH BANI NADIR DI MADINAH
Bani Nadhîr mulai takut dan semakin takut ketika mengetahui Rasûlullâh dan pasukannya akan menyerang, terlebih lagi setelah mendapat kepastian Abdullah bin Ubaiy dan Bani Quraizhah berhianat. Mereka membiarkan Bani Nadhîr menghadapi kaum Muslimin tanpa ada pertolongan yang mereka janjikan. Itu juga yang di lakukan Bani Ghathafân. Allâh Azza wa Jalla memisalkan perbuatan kaum munafiq ini dalam firman-Nya :

كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنكَ

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia mengatakan kepada manusia, "Kafirlah kamu", Maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, " [al-Hasyr/59:16]

Setelah mendapat kepastian akan pengkhianatan Abdullah bin Ubay, Bani Nadhîr memilih bertahan dalam benteng dan melawan kaum Muslimin dengan panah dan bebatuan. Keberadaan kebun dan pohon korma di sekitar benteng, menguntungkan mereka. Ini memaksa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menebang dan membakar kebun dan pohon-pohon kurma[10] yang ada di sekitar benteng, sebagai psywar untuk mengecilkan nyali musuh. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengepung mereka selama enam hari[11] sampai akhirnya mereka menyerah dan memilih keluar Madinah sambil mengajukan syarat diperbolehkan membawa harta yang bisa di bawa oleh onta-onta mereka. Permintaan ini disetujui oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sehingga sebagian di antara mereka ada yang merobohkan rumah mereka kemudian bahan-bahan rumah itu di bawa dengan onta-onta mereka, bahkan ada yang membawa atap rumah dengan onta-onta tersebut sebagaimana Allâh ceritakan dalam al-Qur’ân.[12]

Kemudian Bani Nadhîr menyebar. Diantara mereka ada yang pergi ke daerah Syam, namun kebanyakan mereka termasuk para pemuka Bani Nadhîr memilih eksodus ke Khaibar[13] . Dikisahkan, hanya dua dari mereka yang mau memeluk agama Islam yaitu Yamin ibn Amru dan Abu Sa'an bin Wahab.

PEMBAGIAN HARTA GHANIMAH OLEH RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Dengan eksodusnya Bani Nadhir dari Madinah, maka harta yang mereka tinggalkan terhitung sebagai al-fai. [14] Pembagian harta jenis ini diserahkan sesuai kebijakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dalam peristiwa ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak memberikannya kepada para sahabat dari kalangan muhâjirîn, karena mereka lebih butuh bila dibandingkan kaum Anshâr. Hanya dua dari kalangan Anshar yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri al-fai ini yaitu Abu Dujânah Radhiyallahu anhu dan Sahal bin Hanîf Radhiyallahu anhu karena keduanya sangat miskin.

PELAJARAN YANG DAPAT DI AMBIL DARI PEPERANGAN BANI NADHIR
1. Pemberitahuan Allâh Azza wa Jalla kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang rencana Bani Nadhir untuk membunuh Rasûlullâh merupakan bukti bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar seorang nabi dan rasul

2. Peristiwa pembakaran pohon-pohon kurma dan kebun Bani Nadhîr yang di lakukan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , menunjukkan bahwa keputusan seperti ini diserahkan kepada imam atau pemimpin, apabila dilihat hal tersebut bisa melemahkan musuh.

3. Mengahargai dan menjaga perjanjian yang sudah di sepakati bahkan dengan musuh sekalipun.

4. Melanggar perjanjian yang sudah di sepakati dapat berakibat buruk bahkan bisa memicu permusuhan atau peperangan.

5. Mengingkari janji adalah perangai Yahudi. Ini terbukti perbuatan mereka yang sering melanggar perjanjian.

6. Harta yang di dapatkan dari musuh tanpa ada kontak senjata di bagikan sesuai dengan kebijakan pemimpin.

7. Kaum munafiq selalu berusaha merongrong kekuatan kaum Muslimin dan memprovokasi musuh-musuh kaum Muslimin agar memerangai kaum Muslimin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Mukhtashar Zâdul Ma’âd, hlm. 177 dan disebutkan juga oleh al-Baihaqi dan Imam Bukhari (lihat Sirah Ibnu Kastir, 3/16). Adapun yang menguatkan pendapat yang menyatakan peperangan Bani Nadhir terjadi setelah perang Uhud yaitu pengharaman khamr turun pada malam-malam pengepungan Bani Nadhîr, sementara pada saat perang Uhud, khamr masih dibolehkan. Terbukti, sebagian sahabat yang syahid ada yang masih membawa khamr dan meminumnya, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahîh Bukhâri, dalam Kitâbul Jihâd wa Siar dan Kitâbul Maghâzi, Bâb Ghazwatu Uhud. Lihat Sirah karya Ibni Katsir, 3/16-17 dan Mukhtashar Sîratir Rasûl, hlm. 124.
[2]. Mushannaf, abdurrozzaq, 5/359-360.
[3]. Diyât adalah harta yang wajib diberikan oleh pelaku kejahatan pidana kepada korban (lihat al-Wajîz fi Fiqhis Sunnati wal Kitâbil Aziz, hlm. 409). Yang mendasari Rasulullah meminta bantuan orang-orang Bani Nadhir untuk membayar diyat yaitu adanya ikatan perjanjian untuk saling menolong antara Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mereka.
[4]. Amru bin Umayyah Radhiyallahu anhu membunuh kedua orang tersebut karena ingin balas dendam atas pembantaian terhadap beberapa sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam peristiwa Bi’ru Ma’unah (Lihat ar-Rahîqul Makhtûm, hlm. 294)
[5]. As-Sirah, Ibnu Katsîr(3/145) sebab ke-2 inilah yang memicu perang ini. Karna sebab yang pertama mengisaratkan bahwa kejadian ini setelah perang Badar, padahl perang Bani Nadhir terjadi setelah perang Uhud, peristiwa Rajî’serta peristiwa Bi’ru Mau’nah (lihat catan kaki no:1), sedangkan penyebab yang ke tiga adalah riwayat yang dha’if .
[6]. Riwayat Musa bin Uqbah t (ad-Dalâ’il, al-Baihaqi, 3/140 ) dengan sanad yang dha’if.
[7]. Sirah ibni Hisyâm(2/189-190). Lihat Shahih Bukhâri (Bab Hadist Bani Nadhir).
[8]. Lihat Sirah karya Ibnu Hisyâm(2/189), Zâdul Ma’âd(3/115), ar-Rahîqul Makhtûm(hlm. 295).
[9]. Lihat rujukan sebelumnya.
[10]. Fathul Bâri, Ibnu Hajar(9/85) dan al-Hasyr/59:5
[11]. Ibnu Hisyâm rahimahullah mengisahkan bahwa pengepungan berlangsung selama enam hari (Lihat, Sirah, Ibnu Hisyâm(2/190) dan al-Wâqidi rahimahullahj mengatakan pengepungan berlangsung selama 15 hari, (Lihat, Sirah, Ibnu Katsir(3/146).
[12]. al-Hasyr/59:2
[13]. irah, Ibnu Hisyam(2/190-191).
[14]. Harta yang di dapatkan dari musuh tanpa melalui pertempuran atau tanpa kontak senjata, seperti harta yang di tinggalkan orang kafir yang lari karena takut kepada kaum Muslimin sebelum berperang (al-Wajiz, hlm. 490) .

Sumber : http://almanhaj.or.id/

ANTARA TRAGEDI RAJI, BI'R MAUNAH DAN QUNUT NAZILAH


Pada bahasan sebelumnya disampaikan sebuah peristiwa tragis yang menimpa para shahabat Rasûlullâh yang berjumlah 10 dibawah pimpinan 'Ashim bin Tsabit al-Aqlah. Mereka diutus oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai respon terhadap permintaan utusan kabilah Bani Udhal dan al-Qarrah yang meminta bantuan tenaga untuk mengajari mereka tentang agama Islam. Namun itu hanya akal bulus mereka saja. Para shahabat ini kemudian dibantai didekat mata air Bani Hudzail, didaerah Raji', kecuali Khubaib dan Zaid Radhiyallahu anhuma. Oleh karenanya rombongan ini disebut sariyatur Raji'.

Pada bulan yang sama dengan pengiriman sariyatu raji', Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengirim para shahabat pilihan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Najd. Rombongan ini berjumlah 70 orang. Mereka dikenal sebagai para shahabat yang ahli baca al-Qur'an, rajin shalat tahajjud serta suka bekerja keras lalu hasilnya diinfakkan untuk para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertempat tinggal di shuffah (serambi masjid nabawi).

LATAR BELAKANG PENGIRIMIAN PARA SHAHABAT KE NAJD
Imam Muslim rahimahullah menerangkan penyebab mereka diutus adalah permintaan dari beberapa orang agar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkenan mengirim para shahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa mengajari mereka membaca al-Qur'an[2] . Sementara Imam Bukhâri rahimahullah [3] menyebutkan penyebab lain, namun substansinya tidak berbeda. Beliau rahimahullah menyebut, bahwa penyebab pengiriman ini adalah permintaan bantuan dari beberapa utusan Bani Sulaim untuk menghadapi musuh mereka. Permintaan ini dikabulkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengirimkan 70 shahabat pilihan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Penjelasan Imam Bukhâri t tentang penyebab pengiriman ini sejalan dengan keterangan Ibnu Sa'd.[4]

Ibnu Ishâq rahimahullah menyebutkan bahwa Abu Barra' 'Amir bin Mâlik menemui Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya masuk Islam. Orang ini tidak merespon ajakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tidak menunjukkan sikap menerima ataupun sikap penolakan. Kemudian dia berujar, “Wahai Rasûlullâh ! Sekiranya engkau berkenan mengutus shahabat-shahabatmu kepada penduduk Najd untuk mendakwahkan agamamu kepada mereka, aku sangat berharap mereka menyambutnya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku mengkhawatirkan perlakuan penduduk Najd atas mereka.” Abu Barra` mengucapkan kalimat untuk meyakinkan Rasûlullâh, “Aku yang menjamin mereka.”[5]

Riwayat-riwayat tentang latar belakang ini bisa dipertemukan dengan menganggap kedua peristiwa itu benar adanya. Artinya, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan para shahabatnya demi memenuhi permintaan Abu Barra' dan Bani Sulaim.

TRAGEDI SUMUR MA'UNAH
Pada waktu yang telah ditentukan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , para shahabat ini bertolak menuju Najd meninggalkan Madinah. Ketika tiba di Bi`r Ma’unah sebuah daerah yang terletak antara wilayah Bani ‘Amir dan wilayah Bani Sulaim, para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini mengutus Haram bin Milhan Radhiyallahu anhu saudara Ummu Sulaim[6] bintu Milhan untuk mengantarkan surat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Amir bin Thufail, sepupu Abu Bara' 'Amir bin Malik[7] . Namun ‘Amir bin Thufail tidak menghiraukan surat itu bahkan ia memberi isyarat kepada seseorang pengikutnya untuk menikam Haram Radhiyallahu anhu dengan tombak dari belakang. Orang itu melaksanakan apa yang diisyaratkan 'Amir. Haram Radhiyallahu anhu ditikam. Sesaat setelah ditikam dan Haram Radhiyallahu anhu melihat darah segar mengalir dari lukanya, beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, "Allahu Akbar, Demi Rabb Ka’bah, aku telah beruntung.”[8]

Kemudian ‘Amir bin Thufail memprovokasi orang-orang Bani ‘Amir agar memerangi rombongan shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Bani 'Amir menolak ajakan 'Amir bin Thufail karena para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam jaminan Abu Barra`. Tekadnya untuk memerangi rombongan ini tidak luntur disebabkan kegagalannya memprovokasi Bani 'Amir. Dia arahkan hasutannya ke Bani Sulaim. Ajakan ini disambut oleh kabilah ‘Ushaiyyah, Ri’l dan Dzakwan. Mereka mulai bergerak dan mengepung para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Pertempuran sengit tak terhindarkan. Satu persatu shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam gugur sebagai syahid, sampai akhirnya tidak ada yang tersisa kecuali Ka'b bib Zaid bin Najjar Radhiyallahu anhu yang dibiarkan sekarat dengan harapan agar meninggal pelan-pelan. Namun Allâh Azza wa Jalla menakdirkan lain, Ka'b ternyata bisa bertahan hidup sampai perang Khandaq. Sementara itu ada dua shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tertinggal yaitu Amr bin Umayyah dan al Mundzir Uqbah bin 'Amir. Melihat para shahabat mereka telah menjadi korban, tanpa rasa gentar, mereka maju dan menyerang kaum kuffar. Al Mundzir terbunuh. Sementara Amr ditawan namun akhirnya dilepas dengan tebusan.

Setelah statusnya sebagai tawanan hilang dari dirinya, Amr bin Umayyah Radhiyallahu anhu bergegas pergi ke Madinah dan melaporkan peristiwa memilukan ini. Dalam perjalanannya ke Madinah, beliau Radhiyallahu anhu berjumpa dengan dua orang Bani Kilâb. Tanpa berpikir panjang, beliau Radhiyallahu anhu menyerang kedua orang itu sampai akhirnya keduanya terbunuh. Setelah berhasil membunuh mereka, beliau Radhiyallahu anhu merasa puas dan merasa telah membalas kematian para shahabat beliau Radhiyallahu anhu . Amr bin Umayyah Radhiyallahu anhu tidak tahu kalau orang yang dibunuh itu sudah ada perjanjian damai dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, setelah mendengar berita pembunuhan ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan pembayaran diyat (denda) atas pembunuhan. Diyat ini dibebankan kepada seluruh kaum Muslimin dan kaum Yahudi yang terikat perjanjian. Saat Amr bin Umayyah pergi ke wilayah Yahudi untuk keperluan diyat inilah, orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh beliau Radhiyallahu anhu . Peristiwa inilah diantara yang menyulut pertempuran antara kaum Muslimin dengan Bani Nadhir.

Pembantaian yang dialami oleh para shahabat ini telah menorehkan luka teramat dalam di hati Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu menceritakan :

فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَزِنَ حُزْنًا قَطُّ أَشَدَّ مِنْهُ

Aku belum pernah melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih berduka dibandingkan duka akibat peristiwa tersebut. [HR. Bukhâri]

Pasca dua peristiwa memilukan yang menimpa para shahabat pilihan itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut nazilah selama satu bulan atau lebih. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo'akan keburukan buat orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan terhadap para shahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

PELAJARAN DARI KISAH TRAGEDI RAJI' DAN BI'R MAUNAH
1. Dua kisah ini menunjukkan bahwa seluruh kaum Muslimin memiliki tanggung jawab untuk ikut andil dalam dakwah dan mengajari manusia tentang Islam.

2. Tugas dakwah terus berjalan, meski dalam kondisi sulit. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengirim para shahabat beliau ke Najd, meski beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir para utusan akan mendapatkan perlakuan yang sama dengan utusan dalam tragedi Raji'.

3. Dalam penggalan kisah Khubaib Radhiyallahu anhu yang tidak mencederai bayi orang yang menawannya [9] padahal beliau Radhiyallahu anhu mampu melakukannya dan memiliki kesempatan untuk membalas dendam terdapat pelajaran yang sangat berharga.

4. Seorang Muslim yang sudah berada dalam tawanan musuh boleh menerima jaminan keamanan (suaka), sebagaimana yang dilakukan Khubaib dan Zaid Radhiyallahu anhuma atau boleh juga menolak, meski harus terbunuh, sebagaimana sikap yang diperlihat 'Ashim[10]

5. Kedua peristiwa ini menyedihkan ini menunjukkan betapa iman kepada Allâh Azza wa Jalla dan RasulNya sudah menghujam dalam dan mengakar kuat dalam hati-hati para shahabat. Sehingga mereka siap mengorbankan apa saja demi mempertahankannya.

6. Para shahabat Radhiyallahu anhum adalah orang-orang pilihan yang dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla dan RasulNya

7. Disyari'at melakukan qunut dalam shalat fardhu untuk mendo'akan orang-orang yang zhalim serta menghilangkan musibah yang menimpa kaum Muslimin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Diangkat dari kitab Sirah Nabawiyah di Dhau'il Mashaadiril ashliyah, hlm. 413-417
[2]. HR Muslim, no. 677
[3]. Al Fath, 15/267, no. 4090
[4]. At-Thabaqât, 2/53 dengan sanad shahih
[5]. Ibnu Hisyâm, 2/260 dengan sanad mursal, Ibnu Sa'd, 2/51 tanpa sanad dan al Wâqidi, 1/246 namun sanadnya lemah.
[6]. Fiqhus Sirah min Zâdil Ma'âd, hlm. 216
[7]. Al-Fath
[8]. Dalam masalah ini, riwayat-riwayat yang dibawakan para ahli sejarah sama dengan riwayat-riwayat yang dibawakan oleh Bukhâri dan Muslim dalam kitab shahih mereka.
[9]. Pada rubrik Sirah edisi 03/Th XIV
[10]. Pada rubrik Sirah edisi 03/Th XIV

Awal Mula Qunut Nazilah & Peristiwa Bi’r Ma’unah

Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar

Sebuah peristiwa tragis kembali menimpa kaum muslimin. 70 shahabat pilihan yang merupakan para qurra` (ahli membaca Al-Qur`an, yakni ulama) dibantai dengan hanya menyisakan satu orang saja. Peristiwa ini mengguratkan kesedihan yang mendalam pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaupun mendoakan kejelekan kepada para pelakunya selama satu bulan penuh. Inilah awal mula adanya Qunut, namun tentu saja bukan seperti yang dipahami oleh masyarakat kebanyakan di mana dilakukan terus menerus setiap Shalat Shubuh.

Pada bulan Shafar tahun keempat hijriah, peristiwa ini terjadi. Ketika itu datang Abu Barra` ‘Amir bin Malik menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah, kemudian oleh beliau diajak kepada Islam. Ia tidak menyambutnya, namun juga tidak menunjukkan sikap penolakan.

Kemudian dia berkata: “Wahai Rasulullah, seandainya engkau mengutus shahabat-shahabatmu kepada penduduk Najd untuk mengajak mereka kepada Islam, aku berharap mereka akan menyambutnya.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Aku mengkhawatirkan perlakuan penduduk Najd atas mereka.” Tapi kata Abu Barra`: “Aku yang menjamin mereka.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus 70 orang shahabat ahli baca Al-Qur`an, termasuk pemuka kaum muslimin pilihan. Mereka tiba di sebuah tempat bernama Bi`r Ma’unah, sebuah daerah yang terletak antara wilayah Bani ‘Amir dan kampung Bani Sulaim. Setibanya di sana, mereka mengutus Haram bin Milhan, saudara Ummu Sulaim bintu Milhan, membawa surat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Amir bin Thufail. Namun ‘Amir bin Thufail tidak menghiraukan surat itu, bahkan memberi isyarat agar seseorang membunuh Haram. Ketika orang itu menikamkan tombaknya dan Haram melihat darah, dia berkata: “Demi Rabb Ka’bah, aku beruntung.”

Kemudian ‘Amir bin Thufail menghasut orang-orang Bani ‘Amir agar memerangi rombongan shahabat lainnya, namun mereka menolak karena adanya perlindungan Abu Barra`. Diapun menghasut Bani Sulaim dan ajakan ini disambut oleh ‘Ushaiyyah, Ri’l, dan Dzakwan. Merekapun datang mengepung para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu membunuh mereka kecuali Ka’b bin Zaid bin An-Najjar yang ketika itu terluka dan terbaring bersama jenazah lainnya. Dia hidup hingga terjadinya peristiwa Khandaq.

Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Fathul Bari juga memaparkan kisah yang disebutkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, antara lain beliau mengatakan:

“Bahwasanya ada perjanjian antara kaum musyrikin dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah kelompok yang tidak ikut memerangi beliau. Diceritakan oleh Ibnu Ishaq dari para gurunya, demikian pula oleh Musa bin ‘Uqbah dari Ibnu Syihab, bahwa yang mengadakan perjanjian dengan beliau adalah Bani ‘Amir yang dipimpin oleh Abu Barra` ‘Amir bin Malik bin Ja’far si Pemain Tombak. Sedangkan kelompok lain adalah Bani Sulaim. Dan ‘Amir bin Thufail ingin mengkhianati perjanjian dengan para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diapun menghasut Bani ‘Amir agar memerangi para shahabat, namun Bani ‘Amir menolak, kata mereka: “Kami tidak akan melanggar jaminan yang diberikan Abu Barra`.” Kemudian dia menghasut ‘Ushaiyyah dan Dzakwan dari Bani Sulaim dan mereka mengikutinya membunuh para shahabat…” demikian secara ringkas.

Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut selama sebulan mendoakan kejelekan terhadap orang-orang yang membunuh para qurra` shahabat-shahabat beliau di Bi`r Ma’unah. Belum pernah para shahabat melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu berduka dibandingkan ketika mendengar berita ini.

Al-Imam Al-Bukhari menceritakan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut selama satu bulan ketika para qurra` itu terbunuh. Dan aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu berduka dibandingkan ketika kejadian tersebut.”

Ibnu Jarir meriwayatkan pula dalam Tarikh-nya, sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (3/247), bahwa pada saat pembantaian tersebut, ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamari dan Al-Mundzir bin ‘Uqbah bin ‘Amir tinggal di pekarangan kaum muslimin. Mereka tidak mengetahui adanya peristiwa pembantaian itu melainkan karena adanya burung-burung yang mengitari tempat kejadian tersebut. Akhirnya mereka melihat kenyataan yang memilukan tersebut.

Mereka berembug apa yang mesti dilakukan. ‘Amr bin Umayyah berpendapat sebaiknya mereka kembali untuk menceritakan kejadian pahit ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun Al-Mundzir menolak dan lebih suka turun menyerang kaum musyrikin. Diapun turun dan menyerang hingga terbunuh pula. Akhirnya ‘Amr tertawan, namun ketika dia menyebutkan bahwa dia berasal dari kabilah Mudhar, ‘Amir memotong ubun-ubunnya dan membebaskannya.

‘Amr bin Umayyah pun pulang ke Madinah. Setibanya di Al-Qarqarah sebuah wilayah dekat Al-Arhadhiyah, sekitar 8 pos dari Madinah dia berhenti berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian datanglah dua laki-laki Bani Kilab dan turut berteduh di tempat itu juga. Ketika keduanya tertidur, ‘Amr menyergap mereka dan dia beranggapan bahwa ia telah membalaskan dendam para shahabatnya. Ternyata keduanya mempunyai ikatan perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak disadarinya. Setelah tiba di Madinah, dia ceritakan semuanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun berkata:

“Sungguh kamu telah membunuh mereka berdua, tentu saya akan tebus keduanya.”1

Inilah antara lain yang juga menjadi penyebab terjadinya perang Bani An-Nadhir yang akan dikisahkan pada edisi mendatang, Insya Allah.

Dari kisah ini, ulama menyimpulkan bahwa qunut yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah qunut nazilah. Dan itupun beliau lakukan selama satu bulan, mendoakan kejelekan terhadap Bani Lihyan, ‘Ushaiyyah dan lain-lain. Bukan terus-menerus sebagaimana dilakukan sebagian kaum muslimin hari ini.

Ini diriwayatkan juga oleh Al-Imam Ahmad dan lainnya dari hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

“Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut selama satu bulan lalu meninggalkannya.”

Demikian pula yang disimpulkan oleh Ibnul Qayyim dalam pembahasan masalah qunut ini, lihat kitab Zaadul Ma’ad (1/273-285).

Terakhir, beliau mengatakan bahwa yang diriwayatkan dari shahabat tentang qunut ini ada dua, yaitu:

a. Qunut ketika ada musibah atau bencana yang menimpa (nazilah) seperti qunut yang dilakukan Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu ketika para shahabat memerangi Musailamah Al-Kadzdzab dan ahli kitab. Juga qunut yang dilakukan ‘Umar dan ‘Ali ketika menghadapi pasukan Mu’awiyah dan penduduk Syam.

b. Qunut yang mutlak, yang dimaksud adalah memanjangkan rukun shalat (seperti berdiri, sujud, dan lainnya) untuk berdoa dan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam.

Footnote:

1 Lihat Tarikh Ath-Thabari 2/81, Tafsir Ibnu Katsir 1/429, 4/332.

Sumber: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=355

Artikel: www.kisahislam.net

Popular Posts

 

© 2013 Istiqomah. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top