Selasa, 04 Maret 2014

Cinta, Masih Sucikah Ia di Hati Kita?

21.32

Tak terasa telah 6 bulan aku menjadi pramugari sekaligus copilot pesawat yang engkau terbangkan. Saling memiliki satu sama lain meski bukan hakekat sebenarnya. Karena kita adalah bukan milik kita, kita adalah milik Allah. Berbagai kebahagian kita rasa bersama. Sungguh tak terhitung betapa banyak rasa itu, betapa besar nikmat itu.
Namun, kadangpun duri merintang di jalan kita, adanya perbedaan dua insan tetap menjadi ujian di jalan yang kita lalui bersama, dalam bahtera kecil kita . “Alhamdulillah segala puji milik Allah meski zhahirnya kotoran mulai terlihat, kesucian terlindung jua… antara kita”, kata engkau suatu ketika. Dan tak kupungkiri akupun setuju meski tak ku lafalkan padamu. Sungguh kita menikah karena Allah asalkan kita kembali kepada Allah kapan pun niat itu terbelokkan, tentu Dia akan dengan senang hati merengkuh kita dengan rahmatnya yang amat besar.
Sungguh sampai detik ini aku masih cinta padamu. Bahkan kalau dihitung bukan dengan hitungan matematis akan tetapi dengan hitungan kesucian hati, sekarang aku lebih cinta padamu. Kenapa? Karena aku sekarang mencintaimu dengan segala kelemahanmu yang dahulu belum aku sadari.

Sebagaimana engkau juga mencoba berdamai dengan sifat kekanak-kanakanku, kemanjaanku, dan semua kelemahan yang kumiliki, dengan cinta yang kau beri tentunya. Sungguh… itu sangat berbeda, jauh lebih terasa di dasar kalbuku. Maha Suci Allah Pemilik Segala Kesempurnaan. Kami hanyalah ciptaanMu, manusia yang sarat dengan kelemahan, karena kami bukan iblis yang selalu jahat dan berlaku buruk dan bukan pula malaikat yang senantiasa dalam ketaatan padaMu. Izinkan kami bahagia di jalan yang kami lalui. Amin.
Seruling hati seorang istri
Tangerang, 30 Juni 2009

Saudariku…, sekelumit seruling hati saya di atas sedikit ingin saya ulas, agar semoga bisa bermanfaat dan menjadi kenangan bagi saya khususnya, sebagai wujud syukur saya kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan begitu banyak kenikmatan hingga detik ini.
Saudariku….
Kalau cinta saja tidaklah cukup sebagai modal untuk mendapatkan kebahagian hidup dalam rumah tangga, mungkin banyak di antara kita yang sudah sepakat. Akan tetapi apakah visi dan misi yang sama sebelum menikah juga belum cukup untuk modal mengarungi bahtera rumah tangga? Kan tinggal kembali kepada Allah. Benarkah? Ternyata btidak sesederhana itu jika sudah dihadapkan dengan alam realita. Dibutuhkan niat yang senantiasa di update setiap saat baik di awal, di tengah maupun diakhir perjalanan kita, juga kemauan dan ikhtiar untuk bisa mempertahankan biduk rumah tangga. Jangan disalahartikan mempertahankan biduk rumah tangga itu tidak hanya tetap hidup sebagai suami istri dalam satu atap lho ya… dalam kebersamaan yang hampa, tiada kesejukan di dalamnya. Yang lebih penting lagi adalah mempertahankan kebahagiaan yang ada di dalamnya. Oya, satu lagi yang jangan sampai kita lupakan, adalah besarnya kekuatan doa, tanda butuh dan cinta kita pada Allah SWT Tuhan kita, cinta pertama dan terakhir kita yang paling puncak. Tanda kita tidak menomorduakan DIA, disamping cinta kita pada yang lainnya selain DIA. Baik suami, orang tua, anak-anak, harta, atau yang lainnya.
“… Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu…” (QS. Al Baqarah: 186)
Saudariku…
Mungkin diantara kita ada yang bertanya, kenapa keluarga tidak sebahagia dulu di awal-awal pernikahan? Tidak bisa dipungkiri, cinta kepada manusia memang kadang melenakan. Saat kita bahagia kita lupa kepada yang memberi kebahagiaan. Meski kadang tidak kita sadari, kita hanya mampu berteori semata. Tentu kita akui bahwa aplikasi jelas lebih sulit daripada teorinya. Akan tetapi Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dasar hati kita yang paling dalam tak dada satupun yang lepas dari pengawasan dan ilmu Allah. Jika kita melupakan Dia, tentu Dia tidak akan rela, Dia cemburu pada kita. Itulah tanda Allah masih sayang pada kita. Kita diingatkan agar kembali kepadaNya… dengan ujian tentunya. Dengan segala ilmu, kasih sayang, dan kuasaNya Dia akan mengingatkan kita dengan membuka kelemahan-kelemahan makhluknya, termasuk pasangan kita. Bisa juga dengan kegersangan di lubuk hati kita dan pasangan kita. Semua terjadi atas kehendakNya.
Hanya Allah SWT lah yang Maha sempurna, yang patut dicintai diatas segala yang dicinta, yang kita dekati ketika hati terluka. Jika sesuatu tidak sesuai dengan yang kita inginkan, manusia akan mempunyai kecenderungan untuk menjauhi orang yang melukai. Lain halnya dengan Robb kita, jika sesuatu terjadi tidak sesuai keinginan kita maka kita akan berdoa, bersujud dan mendekat sedekat-dekatnya padaNya. Karena kita yakin Dia Maha Mendengar, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Niat yang kurang tulus dan kurang ikhlas karena mencari ridlo Allah, sesuai dengan niat pernikahan semula, akan sarat dengan tuntutan. “Jika aku sudah begini maka aku harus dapat begini”. Jika hak sudah didahulukan daripada terlaksananya kewajiban dengan sebaik-baiknya, maka bisikan setan pun pasti nyaring terdengar.
Akhirnya pertengkaran-pertengkaran pun akan silih berganti tanpa penyelesaian. Padahal Allah sangat meencintai hamba yang melakukan pekerjaan (kewajibannya) dengan sebaik-baiknya. Bukan menuntut terpenuhinya haknya sebaik-baiknya, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya Allah sangat mencintai seorang hamba yang apabila melakukan suatu pekerjaan maka ia melakukannya dengan sebaik-baiknya.” (HR. Abu Ya’la dan al-Asykari dalam kitab AL HIKAM)
Perbedaan Karakter
Di dunia ini dengan sifat maha sempurnanya Allah, Dia menciptakan kita dengan berbagai macam karakter dan rupa yang tak ada seorangpun sama antara satu dengan yang lain. Lahir dari rahim yang berbeda, orang tua yang berbeda, lingkungan berbeda, didikan/perlakuan yang berbeda, dan masih banyak lagi berbagai macam perbedaan. So, jika produk yang dihasilkan berbeda, tentu itu bukan suatu hal yang aneh.
Begitu pula dalam rumah tangga, meski visi dan misi awal berumah tangga sudah sama, kita masih punya PR (pekerjaan rumah) jangka panjang untuk mengenal dan memahami karakter pasangan kita. Selanjutnya, tentu tidak berhenti sebatas itu saja, harus ada upaya untuk saling mengisi, memompa semangat satu sama lain, dan memaksimalkan potensi dengan karakter yang ada, sehingga suami istri bisa menjadi khairu ummah (sebaik- baik umat).
PR itu tidaklah semudah perkiraan kita. Dalam mengerjakannya kita perlu tidak henti-hentinya memohon pada Allah SWT agar senantiasa dikuatkan, diberi kesabaran, dan diluruskan niat kita. Kita berbakti pada suamipun juga hanya karena Allah memerintahkan kita untuk berbakti pada suami, bukan hanya karena suami. Orang yang mengaku beriman harus bisa menaklukkan hawa nafsunya, kemauannya, agar sesuai dengan kehendak Allah, aturan Allah.

Written by

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al Hadid 57 : 16)

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2013 Istiqomah. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top